Berita Konservasi

Femke den Haas, Merawat Satwa Sitaan

Pada saat satwa-satwa langka disita di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, maka Femke den Haas-lah yang selanjutnya bertanggung jawab untuk menangani masalah ini.

Ia berusaha menyelamatkan nyawa para satwa sitaan itu, dengan membawanya ke lokasi Pusat Penyelamat Satwa di Tegal Alur, Jakarta Barat.

Persinggungannya dengan satwa sitaan dimulai sejak dia bergabung dengan lembaga penyelamat satwa Gibbon Foundation pada Agustus 2002. Lembaga nonprofit ini telah menyiapkan dana sekitar Rp 500 miliar untuk membantu penyelamatan satwa di Indonesia.

Akan tetapi, cerita Femke, perempuan asal Belanda yang fasih berbahasa Indonesia ini, Gibbon Foundation kemudian memutuskan menghentikan bantuan karena kecewa melihat Pemerintah Indonesia nyaris tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan kekayaan satwanya sendiri.

Perdagangan satwa tetap saja terus berlangsung. Bahkan, Femke mengaku nyaris frustrasi setelah dia semakin paham siapa saja yang berkaitan dengan perdagangan satwa tersebut.

Dia tak ingin menjelaskan “mafia” dalam perdagangan satwa itu lebih lanjut. Menurut dia, hal itu sepenuhnya bergantung pada kebijakan Pemerintah Indonesia. Namun, satu hal pasti, kecintaannya pada satwa membuat Femke tetap bertahan.

“Saya sebenarnya tidak tega melihat satwa-satwa itu terlalu lama berada di Tegal Alur. Lahan di sini hanya sekitar 3.000 meter persegi, terlalu sempit untuk menampung sekitar 1.500 satwa,” ujarnya menggambarkan kondisi Pusat Penyelamat Satwa (PPS). Dalam setahun, sedikitnya 2.000 ekor satwa disita di Bandara Soekarno-Hatta.

“Jumlah itu belum termasuk satwa jenis reptil, seperti biawak dan ular kobra yang dijual ke China untuk dikonsumsi,” ungkapnya.

Satwa sitaan yang dipelihara di PPS pun amat beragam jenisnya, mulai dari reptilia, primata, dan hingga mamalia seperti beruang, ada pula burung elang dan burung kakaktua. Satwa-satwa itu berada di PPS sambil menunggu kesempatan untuk dikembalikan ke dalam habitatnya.

Pada September 2006, Femke memutuskan berhenti sebagai Manajer PPS. Sebelum resmi berhenti, sejak tahun 2004, sebenarnya ia juga kerap bepergian dan tinggal di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Di tempat ini dia merawat satwa-satwa langka yang dilindungi, seperti burung elang bondol dan elang laut.

Bekerja sebagai penyelamat satwa memang tak bisa ditentukan jam kerjanya. “Ketika masih di PPS, sewaktu-waktu ada panggilan dari Bandara, saya harus selalu siap,” tuturnya.

Femke lalu bercerita tentang nasib satwa-satwa sitaan. Mereka yang diselamatkan tak hanya yang masih berada di Bandara Soekarno-Hatta, tetapi ada pula yang dibawa kembali ke Indonesia dari beberapa negara di Eropa.

“Biasanya, setelah kami rawat beberapa waktu di PPS, satwa itu siap dikembalikan ke habitatnya. Kami akan melepas mereka lagi di alam bebas,” tuturnya sambil mencontohkan, pada tahun 2005 sebanyak 33 biawak hijau asal Papua yang disita di Eropa dilepaskan kembali di habitatnya.

Hak hidup

Femke mengaku sudah jatuh cinta dan menjadi penyayang satwa sejak dia berusia delapan tahun. Maka, tak heran kalau kini pun dia hafal nama 35 monyet yang dirawatnya sejak sekitar lima tahun lalu di Pulau Penjaliran Barat, di sebelah utara Kepulauan Seribu.

“Saya juga hanya makan sayur-mayur. Saya tak tega makan daging hewan karena hati saya saja sakit melihat satwa-satwa itu diperjualbelikan. Bagaimanapun, mereka juga punya hak untuk hidup bebas. Semua satwa punya hak untuk tidak sakit dan tidak takut,” tuturnya.

Sejak awal Januari 2007 ia bergabung dengan Yayasan International Animal Rescue. Lembaga tersebut menjadi salah satu referensi Pemerintah Indonesia jika muncul masalah satwa.

Salah satu upaya yang dilakukan Femke bersama teman-temannya di lembaga tersebut adalah menyelamatkan orangutan dan satwa lain yang dibunuh ataupun terbunuh akibat pembakaran serta penebangan hutan untuk lokasi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah pada Juli 2007.

Sayang, perjuangan mereka tak berhasil. Femke malah terheran-heran ketika sejumlah pejabat pemerintah justru memakai “topi” perusahaan kelapa sawit ketika berbicara dengan dia. “Bagaimana bisa mereka tega mengorbankan kehidupan satwa dan tanaman di hutan itu?” ucapnya sedih.

Relawan

Tahun 1996 Femke yang bergabung sebagai relawan pada Pusat Reintroduksi Orangutan Wanariset di Kalimantan Timur datang ke Indonesia. Dia mengaku langsung terpesona dengan kekayaan alam, terutama flora dan fauna negeri ini.

Ketika dia pergi ke Kalimantan, kebetulan sang ayah, Dirk Cornelis Bernard Haas, tengah bertugas sebagai diplomat pada Kantor Kedubes Belanda di Jakarta. “Waktu itu ayah saya sempat marah. Dia bilang, untuk apa saya mengurusi satwa di hutan Kalimantan? Dia minta saya segera kembali ke Belanda karena di hutan itu risikonya besar. Mungkin dia khawatir karena saya perempuan,” cerita Femke.

Akan tetapi, bagi perempuan yang sejak usia 13 tahun sudah aktif sebagai relawan di Pusat Penyelamat Burung di Den Haag, Belanda, ini, ketakutan sang ayah tidaklah beralasan.

“Tetapi, setelah ayah saya tahu apa yang saya lakukan, dia jadi sangat mendukung. Apalagi dia juga tahu dan prihatin dengan semakin rusaknya hutan- hutan di Indonesia,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

Sebelumnya, pada tahun 1999 ia pernah terlibat dalam penyelamatan satwa di Yunani, dan tahun 2000 di Guinea, Afrika Barat. Femke bercerita, saat berusaha menyelamatkan 20 bayi simpanse di Guinea itu, mobil yang ditumpanginya sempat diberondong rentetan tembakan.

Bagi dia, satwa adalah makhluk yang juga punya hak hidup di Bumi ini. Dia tak bisa memahami mengapa satwa harus dijadikan tontonan dalam pertunjukan sirkus, atau dibunuh sebagai pemuas nafsu makan manusia.

“Sirkus itu termasuk penyiksa satwa. Coba saja lihat ketika harimau disuruh melompati api. Kalau satwa itu menolak, manusia akan memukul tubuhnya. Itu kan penyiksaan,” ujarnya tegas.

Memang, tak hanya di Indonesia satwa menjadi makhluk yang terpinggirkan. Namun, karena telanjur cinta pada Indonesia, kata Femke, apa pun yang mesti dihadapi, ia akan tetap memerhatikan kelangsungan hidup satwa-satwa kekayaan negeri ini.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/05/Sosok/3813918.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: