KERACUNAN BOTULISME

Botulisme adalah suatu bentuk keracunan yang spesifik, akibat penyerapan toksin/racun yang dikeluarkan oleh kuman Clostridium botulinum. Toksin botulinum mempunyai efek yang sangat spesifik, yaitu menghambat hantaran pada serabut saraf kolinergik dan mengadakan sparing dengan serabut adrenergic, Toksin mengganggu hantaran saraf di dekat percabangan akhir dan di ujung serabut saraf.
Kuman clostridium botulinum masuk ke dalam tubuh melalaui saluran cerna. Makanan yang tercemar oleh kuman clostridium. Biasanyaterdapat juga makanan kaleng yang udah habis masa berlakunya. Angka kematian akibat keracunan botulisme ini sangat tinggi.

Gejala Klinis
Botulisme dapat bervariasi sebagai penyakit yang ringan sampai dengan penyakit yan berat dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu 24 jam. Bila gejala timbul lebih cepat, maka keadaannya lebih serius dan berat.
Gejala klinis tersebut dapat berupa:
• Mual dan murah
• Rasa lemah, pusing dan vertigo (perasaan berputar-putar)
• Rasa kering pada mulut dan tenggorokan, kadang-kadang disertai rasa nyeri
• Gejala neurologis berupa gangguan penglihatan (mata kabur), disfagia, kelelahan dan diikuti dengan gangguan otot-otot pernafasan.

Penatalaksanaan
Pasien dengan botulisme dapat meninggal karena kegagalan pernafasan. Tindakan segera yang kita lakukan adalah:
• Menjaga jalan nafas tetap terbuka dan mengontrolan vital sign
• Muntahkan korban
• Pemberian susu dan air kelapa dapat dipertimbangkan
• Segera rujuk ke RS

KERACUNAN INSEKTISIDA GOLONGAN ORGANOFOSFAT (CHOLINESTERASE INHIBITOR INSECTICIDES)

Insektisida golongan penghambat kolinesterase sangat toksis dan insiden keracunan oleh bahan ini cenderung meningkat karena senyawa organofosfat banyak digunakan sebagai bahan pengganti untuk DDT, setelah pelarangan DDT di beberapa negara.
Yang termasuk senyawa organofosfat misalnya paration, malation, systox, TEPP, HEPP, OMPA, sedangkan yang lain adalah golongan carbonates misalnya dimethan, matacil.
Insetisida ini bekerja dengan menghambat dan mengaktivasikan enzim asetilkolinesterase. Enzim secara normal menghanurkan asetilkolin yang dilepaskan oleh susunan saraf pusat, ganglion otonom, ujung-ujung saraf parasimpatis dan ujung-ujung saraf motorik hambatan asetilkolinesterase menyebabkan tertumpuknya sejumlah besar asetilkolin pada tempat-tempat tersebut.

Gejala Klinis
• Gejala klinis biasanya muncul dalam 2 jam setelah kontak
• Kejang yang diikuti dengan penurunan kesadaran dan depresi pernafasan
• Penglihatan kabur, kejang perut, muntah dan diare
• Perangsangan kelenjar sekretoris menyebakan rinorea, salivasi, banyak keringat
• Pada kulit menimbulkan gatal-gatal atau dapat menimbulkan ekzem

Penatalaksanaan
• Cegah kontak selanjutnya misal melepaskan pakaian, cici kulit yang terkontaminasi
• Bilas lambung bila racun tertelan
• Kontrol vital sign
• Segera rujuk ke rumah sakit terdekat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: